1

Suku Tengger Bromo

Suku Tengger Bromo

Suku Tengger BromoMengenal lebih dekat dengan Suku Tengger Bromo yang berada di kawasan Bromo desa ngadisari kecamatan Sukapura. Mungkin bagi anda akan bertanya-tanya ketika Anda berada di Wisata Bromo, mengapa desa ini di sebut dengan Suku Tengger Bromo, kenapa namanya bukan desa Bromo atau desa Batok (red: di sebelah gunung Bromo adalah Gunung Batok), tentunya tidak, karena Suku Tengger Bromo mempunyai sejarah yang mempunyai arti yang tidak bisa di hilangkan begitu saja. Kembali lagi ke Sejarah dan legenda Gunung Bromo di situlah kita akan menemukan asal-usul Suku Tengger Bromo.

Singkat Cerita sejarah SUKU TENGGER BROMO: “Dari namanya asal-usul kata “TENG-GER” berasal gabungan dua kata, yaitu TENG dan GER. Keduanya merupakan akhiran kata dari dua nama, yaitu RORO AN-TENG dan JOKO SE-GER. Hal itu terkait Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang terjadi pada jaman dahulu kalah ketika keturunan Majapahit yang menetap di Bromo. Menurut penuturan masyarakat setempat, Roro Anteng, yaitu seorang putri asli keturunan dari Raja Majapahit dan Joko Seger, yaitu Putera seorang brahmana. Asal mula nama Suku Tengger diambil ketika Joko Seger yang menikah dengan Rara Anteng, dari pernikahan mereka, Keduanya membangun pemukiman dan memberikan nama desa TENGGER yang di ambil dari nama belakang Rara An-TENG dan Jaka Se-GER, mereka memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman””.

Suku tengger adalah warga asli yang mendiami kawasan Gunung Bromo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di Jawa Timur. Masyarakat suku Tengger Bromo sendiri sejak awal merupakan penganut Hindu, mengingat Gunung Bromo adalah Brahma (merupakan Dewa Brahma yang tak lain dewa untuk agama Hindu). Suku Tengger adalah pemeluk agama Hindu lama dan tidak seperti pemeluk agama Hindu umumnya yang memiliki candi atau kuil sebagai tempat peribadatan, tapi untuk sa’at ini mereka mempunyai Pura satu-satunya yaitu Pura Poten Bromo yang berada tepat di lautan pasir Gunung Bromo. Hingga kini mereka yang mengaku sebagai Suku Tengger meyakini sebagai keturunan langsung dari pengikut Kerajaan Majapahit.

Tingkat pertumbuhan penduduk suku Tengger Bromo yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger ini tergolong rendah. Meskipun keberadaan mereka terpusat di sekitar kawasan tersebut tetapi persebaran wilayahnya kini telah mencapai sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.

Suku Tengger di Bromo dikenal sangat berpegang teguh pada adat dan istiadat Hindu lama yang menjadi pedoman hidup mereka. Keberadaan suku Tengger ini juga sangat dihormati oleh penduduk sekitar karena menerapkan hidup dalam kesederhana’an dan kejujuran. Mata pencaharian mereka sebagian besar adalah bercocok tanam dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak memiliki kasta bahasa, sangat berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai umumnya memiliki tingkatan bahasa.

Ciri-Ciri khas Suku Tengger Bromo adalah jika para lelaki memakai kain sarung yang selalu dililitkan dilehernya, serta memakai pengikat kepala atau kupluk yang menjadi penutup kepala, jika para Wanita mereka biasanya memakai Selendang yang di ikat, seperti gambar di atas.

Pada umumnya Suku Tengger di Gunung Bromo rutin mengadakan beberapa upacara adat dan yang terbesar di antara upacara yang di adakan adalah Hari Raya Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo. Upacara ini dilakukan di puncak Kawah Bromo sebagai tempat terakhir untuk melemparkan sesaji. Saat perayaan hari besar Upacara Kasada suku Tengger di Gunung Bromo ini, bukan hanya dikunjungi umat Hindu Tengger dari berbagai penjuru Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, namun umat Hindu dari Bali yang merasa mereka adalah keturunan dari Kerajaan Majapahit ikut serta dalam peraya’an besar Umat hindu tersebut. Tidak hanya itu, saat upacara ini berlangsung, Pura Luhur Poten Bromo yang berada di antara Gunung Batok dan Gunung Bromo akan dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai negara dan penjuru Tanah Air.

Selain upacara Yadnya Kasada/ Kasodo, ada juga Hari Raya Karo dan Unan-Unan. Sebuah hal yang berhubungan dengan siklus kehidupan warga suku Tengger juga diadakan ritual adat yaitu: saat kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara), kematian (entas-entas, dan lainnya), upacara adat berhubungan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan juga terkait adanya gejala alam seperti leliwet dan barikan, Semua upacara harus di adakan oleh Suku Tengger Bromo karena untuk menjaga nilai budaya serta keta’atan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Suku Tengger Bromo

Jika Anda ingin bertemu dan berinteraksi langsung dengan warga suku Tengger Bromo yang berada di wisata Gunung Bromo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tips wisata dari kami Untuk menuju lokasi ini maka Anda dapat melalui Kota Surabaya atau Kota Malang menggunakan mobil sewaan atau kendaraan umum. Ketika tiba di kawasan wisata Bromo Anda dapat menginap di salah satu hotel/losmen/homestay di kawasan terdekat Bromo untuk memastikan melihat kehidupan langsung suku Tengger Bromo atau hanya sekedar menikmati dan melihat matahari Terbit Bromo yang menakjubkan.